PusakoNews.com, Jakarta - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa keberhasilan operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat bergantung pada peran pengawas gizi dan jurutama masak atau chef. Kedua unsur tersebut dinilai menjadi garda terdepan dalam memastikan kualitas, keamanan, dan kelayakan makanan yang diterima masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Nanik dalam kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan untuk Pengawas Gizi dan Jurutama Masak SPPG se-Provinsi DKI Jakarta yang digelar di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa keberlangsungan Program MBG ke depan ditentukan oleh kualitas pengelolaan dapur di lapangan.
Menurutnya, selama ini pengawas gizi dan jurutama masak justru masih minim dilibatkan dalam berbagai kegiatan pendidikan, pelatihan, maupun sosialisasi yang diselenggarakan pemerintah. Padahal, mereka merupakan pihak yang menjalankan proses teknis utama dalam penyediaan makanan bergizi setiap hari.
BGN menilai, aspek keamanan pangan atau food safety akan menjadi fokus utama pelaksanaan Program MBG pada tahun 2026. Oleh karena itu, pemerintah mulai memperkuat berbagai program peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya bagi pengawas gizi dan tenaga dapur di seluruh Indonesia. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh proses pengolahan makanan dapat berjalan sesuai standar kesehatan, higienitas, dan keamanan pangan yang telah ditetapkan.
Dalam evaluasi yang dilakukan di berbagai daerah, BGN menemukan masih banyak dapur SPPG yang belum memenuhi standar teknis ideal. Sejumlah fasilitas diketahui memanfaatkan bangunan lama seperti rumah tinggal, rumah makan, ruko, hingga kafe yang dialihfungsikan menjadi dapur pelayanan gizi.
Kondisi tersebut dinilai memunculkan berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan ruang produksi, alur kerja yang tidak sesuai standar, hingga potensi terjadinya kontaminasi silang dalam proses memasak. BGN menilai tata letak dapur yang tidak sesuai petunjuk teknis dapat berdampak langsung terhadap kualitas makanan yang disajikan kepada penerima manfaat Program MBG.
Selain itu, masih ditemukan dapur dengan ukuran yang jauh di bawah standar operasional. Dalam ketentuan teknis yang disusun pemerintah, luas ideal dapur SPPG ditetapkan sekitar 400 meter persegi guna mendukung kelancaran proses produksi, penyimpanan bahan pangan, pengolahan, hingga distribusi makanan.
- Chef dan Pengawas Gizi Jadi Kunci Sukses Program Makan Bergizi Gratis
- BGN Warning Dapur SPPG, Kesalahan Kecil Bisa Ancam Keamanan Pangan
- Fakta Mengejutkan! Banyak Dapur SPPG Masih Gunakan Bangunan Bekas








Komentar