PusakoNews.com, Washington - Ketegangan di kawasan Teluk Persia masih menyisakan ancaman serius terhadap jalur pelayaran global, khususnya di Selat Hormuz. Meskipun sebagian besar kekuatan angkatan laut reguler Iran dilaporkan telah mengalami kerusakan parah, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap mempertahankan kemampuan tempur melalui strategi asimetris yang mengandalkan armada kapal kecil cepat, atau yang kerap disebut “armada nyamuk”.
Armada ini terdiri dari kapal-kapal berukuran kecil, lincah, dan sulit terdeteksi, yang dirancang untuk melancarkan serangan cepat terhadap kapal komersial maupun militer. Selain itu, IRGC juga mengoperasikan rudal dan drone yang dapat diluncurkan baik dari laut maupun dari lokasi tersembunyi di daratan, menjadikannya ancaman utama bagi keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
Situasi di Selat Hormuz sempat memanas setelah Iran menyatakan akan menutup jalur strategis tersebut hingga tercapai gencatan senjata di Lebanon. Meski kemudian muncul pernyataan berbeda dari pejabat Iran terkait status pembukaan selat, militer Iran menegaskan bahwa wilayah tersebut kini berada dalam kendali ketat angkatan bersenjata.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut situasi di Selat Hormuz telah mereda, meskipun blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih diberlakukan hingga tercapai kesepakatan damai.
Pengamanan dan potensi penutupan selat kini menjadi tanggung jawab utama angkatan laut IRGC, yang mengadopsi pendekatan peperangan gerilya di laut. Strategi ini menitikberatkan pada serangan cepat, mobilitas tinggi, dan kemampuan menghindari konfrontasi langsung dengan kekuatan militer konvensional yang lebih besar.
Data dari badan maritim internasional menunjukkan sedikitnya 20 kapal telah menjadi sasaran serangan selama konflik berlangsung. Serangan tersebut diduga menggunakan drone yang diluncurkan dari platform bergerak, sehingga sulit dilacak.
A satellite image of Iran’s drone ship, known as the Shahid Bagheri, anchored near the Bandar Abbas port in Iran.Sementara itu, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyebut lebih dari 90 persen armada laut reguler Iran telah hancur. Namun, jumlah pasti kapal serang cepat milik IRGC yang masih aktif sulit dipastikan, dengan estimasi berkisar dari ratusan hingga ribuan unit.
Kapal-kapal kecil ini kerap disembunyikan di pangkalan tersembunyi, termasuk di gua-gua sepanjang garis pantai, memungkinkan pengerahan cepat dalam waktu singkat. Keberadaan mereka dinilai tetap menjadi faktor pengganggu signifikan bagi stabilitas kawasan.
IRGC sendiri memiliki sekitar 50.000 personel dan membagi operasinya ke dalam beberapa sektor di Teluk Persia, termasuk kehadiran di pulau-pulau strategis. Mereka juga telah membangun sedikitnya 10 pangkalan tersembunyi yang diperkuat untuk mendukung operasi kapal serang.
Sejarah menunjukkan bahwa strategi ini berkembang sejak perang Iran-Irak, ketika Iran menyadari keterbatasannya dalam menghadapi kekuatan militer konvensional Amerika Serikat. Sejak saat itu, pendekatan asimetris menjadi pilar utama pertahanan laut Iran.
Dalam perkembangannya, IRGC tidak hanya mengandalkan kapal kecil, tetapi juga mengembangkan kapal lebih besar seperti kapal induk drone yang dimodifikasi, meski beberapa di antaranya dilaporkan mengalami kerusakan dalam konflik terbaru.
Para analis menilai bahwa meskipun kapal perang modern mampu menghadapi ancaman tersebut, kapal komersial tetap rentan. Selain itu, keterbatasan ruang manuver di Selat Hormuz memperbesar risiko serangan mendadak, baik dari drone maupun rudal jarak dekat.
Sebuah perahu cepat Korps Garda Revolusi Islam IranUntuk mengurangi risiko, kapal perang AS dilaporkan lebih memilih beroperasi di luar Selat Hormuz, seperti di Teluk Oman atau Laut Arab, guna tetap memantau lalu lintas pelayaran tanpa berada dalam jangkauan langsung serangan.
Iran juga memperingatkan kemungkinan perluasan operasi ke wilayah lain, termasuk Laut Merah, melalui kelompok sekutunya di kawasan.
Dengan sejarah panjang konfrontasi antara IRGC dan militer AS, termasuk insiden penangkapan pelaut Amerika pada 2016, dinamika keamanan di Teluk Persia diperkirakan akan tetap kompleks. Keberadaan “armada nyamuk” Iran pun terus menjadi faktor kunci yang memengaruhi stabilitas jalur energi global tersebut.
[PusakoNews.com/red]
Komentar