Gencatan Senjata di Lebanon Picu Kejutan dan Kritik di Israel

Netanyahu Diduga “Tunduk” pada Trump? Ini Fakta yang Terungkap
Gencatan senjata yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik di Lebanon memicu reaksi beragam di Israel.
©PusakoNews.com/red
Gencatan senjata yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik di Lebanon memicu reaksi beragam di Israel. ©PusakoNews.com/red
Sesuaikan Ukuran Baca
727

PusakoNews.com, Yerusalem - Gencatan senjata yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik di Lebanon memicu reaksi beragam di Israel, terutama di wilayah utara yang masih berada di bawah ancaman serangan roket hingga menjelang pemberlakuan kesepakatan tersebut.


Pada malam sebelum gencatan senjata berlaku, sirene peringatan berbunyi di sejumlah komunitas di Israel utara. Sistem pertahanan udara mencegat roket yang diluncurkan dari Lebanon, memicu ledakan di udara. Tim medis melaporkan sedikitnya tiga warga terluka akibat serpihan, dua di antaranya dalam kondisi serius.


Di tengah situasi tersebut, muncul keraguan publik terhadap keputusan pemerintah Israel yang menyetujui gencatan senjata. Sejumlah warga menilai langkah tersebut tidak memberikan solusi nyata terhadap ancaman dari kelompok bersenjata Hezbollah.


Secara militer, Israel diketahui masih menempatkan lima divisi pasukan di wilayah selatan Lebanon. Bahkan sehari sebelumnya, pihak militer menyatakan operasi akan terus berlanjut, sehingga pengumuman gencatan senjata dinilai mengejutkan, termasuk di kalangan internal pemerintahan.


Media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggelar rapat kabinet keamanan secara mendadak, hanya beberapa menit sebelum pengumuman. Dalam pertemuan tersebut, para menteri disebut tidak diberi kesempatan untuk memberikan suara.


Kritik juga datang dari kalangan politik dan militer. Mantan Kepala Staf militer Israel, Gadi Eisenkot, menilai pola gencatan senjata yang berulang menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengubah keberhasilan militer menjadi keuntungan diplomatik.


Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak memenuhi dua tuntutan utama Hezbollah, yakni penarikan pasukan dari Lebanon dan prinsip “damai untuk damai”. Ia memastikan pasukan Israel tetap berada di zona keamanan dan siap bertindak jika diperlukan.


Di sisi lain, Iran sebelumnya mendesak penghentian operasi Israel terhadap Hezbollah sebagai bagian dari dinamika negosiasi dengan Amerika Serikat. Presiden Trump menyatakan langkah gencatan senjata bertujuan menciptakan “ruang bernapas” di tengah kebuntuan pembicaraan dengan Teheran.


Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga Israel masih mendukung kelanjutan operasi militer terhadap Hezbollah serta menolak gencatan senjata dengan Iran.


Kesepakatan gencatan senjata ini tetap memberi ruang bagi Israel untuk melakukan tindakan militer defensif kapan pun terhadap ancaman yang dianggap nyata. Namun, bagi banyak warga, langkah ini belum dianggap sebagai solusi akhir konflik, melainkan cerminan kuatnya pengaruh kepentingan Amerika Serikat terhadap kebijakan Israel.

[PusakoNews.com/red]

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait