PusakoNews.com, Washington - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, berpotensi menyeret perekonomian dunia ke arah perlambatan tajam bahkan resesi global.
Dalam laporan terbaru World Economic Outlook, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi sekitar 3,1 persen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh dampak konflik yang mengganggu stabilitas pasar energi, terutama distribusi minyak dunia.
Gangguan terhadap jalur vital energi seperti Selat Hormuz telah mendorong kenaikan harga minyak dan memicu tekanan inflasi secara global. Kondisi ini berisiko menciptakan situasi ekonomi yang kompleks, di mana pertumbuhan melemah sementara harga-harga tetap tinggi.
IMF memaparkan tiga skenario perkembangan ekonomi global, bergantung pada durasi dan eskalasi konflik. Pada skenario dasar, pertumbuhan masih dapat bertahan jika konflik berlangsung singkat. Namun, apabila konflik berlanjut, dunia berpotensi memasuki fase pertumbuhan yang jauh lebih rendah dengan tekanan inflasi yang meningkat. Dalam skenario terburuk, harga minyak dapat melonjak hingga di atas USD 100 per barel dan memicu perlambatan ekonomi yang mendekati resesi.
Selain itu, negara-negara berkembang dan importir energi diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak akibat lonjakan harga energi dan tekanan fiskal. Sementara itu, negara dengan kapasitas produksi energi lebih besar cenderung memiliki ketahanan relatif lebih baik terhadap guncangan ini.
IMF juga menegaskan bahwa meskipun pasar keuangan global saat ini masih menunjukkan ketahanan, risiko ketidakstabilan tetap tinggi. Konflik yang berlarut-larut berpotensi memperbesar tekanan terhadap sistem keuangan global, termasuk meningkatnya volatilitas pasar dan risiko utang.
Lebih jauh, lembaga tersebut mengingatkan bahwa dampak ekonomi dari konflik ini tidak hanya bersifat jangka pendek. Bahkan jika perdamaian tercapai, efeknya dapat meninggalkan “luka” jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi global akibat terganggunya rantai pasok, investasi, dan kepercayaan pasar.
IMF mendorong para pembuat kebijakan di seluruh dunia untuk tetap waspada, menjaga stabilitas ekonomi, serta menerapkan kebijakan yang terarah guna melindungi kelompok rentan tanpa memperburuk tekanan inflasi dan utang publik.
[PusakoNews.com/red]
Komentar