PusakoNews.com, Los Angeles - Rencana merger antara Paramount Skydance dan Warner Bros Discovery kembali menghadapi hambatan hukum setelah Pengadilan Distrik Amerika Serikat mengabulkan permohonan penangguhan sementara yang diajukan koalisi 12 negara bagian yang dipimpin California. Penundaan tersebut memberi waktu bagi pengadilan untuk menelaah gugatan antimonopoli yang menilai merger berpotensi merugikan persaingan usaha, mengurangi pilihan konsumen, hingga memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri media dan hiburan.
Hakim Distrik AS Araceli Martinez-Olguin pada Senin (waktu setempat) menetapkan masa penangguhan selama 14 hari agar para penggugat dapat menyampaikan argumentasi pokok perkara. Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung pada 3 Agustus, sementara putusan akhir diperkirakan baru akan keluar dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam gugatan yang diajukan ke pengadilan federal di California, koalisi negara bagian berpendapat bahwa penggabungan dua perusahaan media besar tersebut berpotensi mengurangi keberagaman konten, mempersempit pilihan masyarakat, serta menyebabkan pengurangan tenaga kerja secara signifikan di sektor produksi film dan televisi.
Selain menghadapi tantangan hukum, penundaan merger juga berpotensi menimbulkan konsekuensi finansial yang besar bagi Paramount. Berdasarkan perjanjian merger, perusahaan diwajibkan membayar biaya bertahap (ticking fee) sebesar 650 juta dolar AS per kuartal apabila transaksi belum rampung setelah 30 September. Paramount juga harus membayar tambahan 25 sen dolar AS per saham, atau sekitar 7 juta dolar AS per hari, selama keterlambatan berlangsung.
Merger ini sejak awal menuai kritik dari kalangan industri hiburan, akademisi, hingga pembuat kebijakan di Washington. Penggabungan dinilai dapat memperbesar konsentrasi kepemilikan media, termasuk menyatukan CBS News dan CNN dalam satu kelompok usaha, sehingga dikhawatirkan memengaruhi keberagaman informasi dan independensi pemberitaan.
Merger Paramount-Warner Bros Ditangguhkan Hakim AS, Ancaman Rugi Rp10 Triliun Membayangi
"Hakim AS Blokir Sementara Merger Paramount dan Warner Bros, Industri Media Dunia Bergejolak"
Kekhawatiran juga muncul terkait kemungkinan perubahan arah editorial CNN apabila merger terealisasi. Sejumlah pihak menyoroti pengaruh Larry Ellison dan putranya David Ellison, yang disebut berpotensi membawa perubahan serupa dengan restrukturisasi yang dilakukan di CBS. Laporan mengenai kemungkinan penunjukan Bari Weiss untuk memimpin salah satu jaringan berita utama AS bahkan memicu spekulasi hengkangnya sejumlah jurnalis senior CNN.
Pakar kebebasan pers dari Universitas New York, Rodney Benson, menilai merger tersebut berpotensi menciptakan preseden yang membahayakan regulasi media. Menurutnya, konsolidasi kepemilikan media dalam skala besar dapat mengurangi keragaman sudut pandang, membatasi pilihan publik, serta meningkatkan dominasi media yang memiliki kedekatan dengan pemerintah.
Di sisi lain, Writers Guild of America (WGA) turut mengajukan gugatan terpisah untuk menghentikan merger. Serikat pekerja penulis tersebut menilai penggabungan akan semakin mengurangi persaingan dalam industri hiburan yang telah terkonsentrasi, sekaligus mengancam lapangan kerja dan keberagaman karya kreatif di sektor televisi maupun film.
Hingga kini, pihak Paramount Skydance belum memberikan tanggapan resmi atas gugatan tersebut.
Sementara itu, pasar modal merespons putusan pengadilan secara beragam. Saham Paramount sempat melemah setelah pengumuman penangguhan, namun kembali stabil pada perdagangan tengah hari. Sebaliknya, saham Warner Bros Discovery masih berada dalam tren penurunan dan tercatat melemah sekitar 3,8 persen pada sesi perdagangan yang sama.
[PusakoNews.com/red]









Komentar