PusakoNews.com, Beijing - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tiba di Beijing, Rabu malam waktu setempat, untuk memulai kunjungan resmi selama dua hari yang dipusatkan pada pembicaraan strategis dengan Presiden China, Xi Jinping. Kedatangan Trump disambut upacara kenegaraan meriah, lengkap dengan karpet merah, pasukan kehormatan, pengibar bendera, serta sambutan langsung dari Wakil Presiden China, Han Zheng.
Pertemuan tingkat tinggi kedua pemimpin negara adidaya tersebut diperkirakan akan membahas sejumlah isu global penting, mulai dari perang tarif dan persaingan teknologi, konflik Iran di Timur Tengah, hingga ketegangan terkait Taiwan.
Kunjungan Trump kali ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, khususnya setelah konflik antara AS dan Israel dengan Iran yang sempat memicu gejolak ekonomi global dan mengganggu jalur perdagangan energi internasional. Agenda lawatan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Maret lalu terpaksa ditunda akibat eskalasi konflik tersebut.
Dalam penyambutannya di Beijing, Trump didampingi putranya, Eric Trump, serta sejumlah tokoh besar industri teknologi Amerika Serikat, di antaranya CEO Tesla, Elon Musk, dan CEO Nvidia, Jensen Huang. Selain itu, sejumlah pimpinan perusahaan raksasa AS seperti Apple, BlackRock, dan Boeing juga disebut turut mengikuti rangkaian kunjungan tersebut.
Menjelang pertemuan dengan Xi Jinping, Trump menegaskan keinginannya agar China membuka akses pasar yang lebih luas bagi perusahaan teknologi Amerika Serikat. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut Xi sebagai pemimpin dengan reputasi luar biasa dan berharap kerja sama ekonomi kedua negara dapat ditingkatkan ke level yang lebih tinggi.
Isu perdagangan diperkirakan menjadi salah satu fokus utama pembahasan. Hubungan dagang AS-China dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan tajam akibat perang tarif, pembatasan ekspor teknologi, serta meningkatnya rivalitas ekonomi kedua negara. Washington diketahui terus mendorong pengurangan defisit perdagangan dengan Beijing, sementara China berupaya memperoleh kelonggaran tarif dan akses lebih besar terhadap teknologi chip kecerdasan buatan asal Amerika Serikat.
Di sisi lain, Amerika Serikat masih menaruh kekhawatiran terhadap dugaan pencurian teknologi oleh perusahaan-perusahaan China. Situasi tersebut mendorong Washington memperketat pembatasan ekspor teknologi strategis, terutama sektor semikonduktor dan AI.
China juga diperkirakan akan memanfaatkan pengaruhnya terhadap pasokan logam tanah jarang, komoditas vital bagi industri teknologi global, sebagai bagian dari strategi negosiasi menghadapi kebijakan tarif Amerika Serikat.
Selain ekonomi, konflik Iran menjadi agenda penting dalam pembicaraan Trump dan Xi. China diketahui sangat bergantung pada pasokan minyak Iran, sementara terganggunya jalur distribusi melalui Selat Hormuz turut menekan perekonomian Beijing. Amerika Serikat disebut terus mendesak China agar menggunakan pengaruh politik dan ekonominya untuk membantu meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Sebelum bertolak ke Beijing, Trump menyatakan dirinya akan melakukan pembicaraan panjang dengan Xi terkait Iran, namun menegaskan Washington tetap mampu menangani konflik tersebut tanpa bantuan pihak lain.
Pertemuan kedua pemimpin juga dibayangi isu Taiwan. Pemerintahan Trump sebelumnya menyetujui penjualan senjata dalam jumlah besar kepada Taiwan, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Beijing yang menganggap pulau tersebut sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya.
Sejumlah senator bipartisan Amerika Serikat bahkan telah mengirim surat kepada Trump agar tetap menegaskan dukungan Washington terhadap Taiwan saat bertemu Xi Jinping. Mereka menilai dukungan Amerika Serikat terhadap Taiwan tidak dapat dinegosiasikan, terutama di tengah persaingan geopolitik dan ekonomi dengan China.
Selama berada di Beijing, Trump dijadwalkan mengikuti upacara penyambutan resmi di Balai Besar Rakyat China, menghadiri jamuan makan kenegaraan, menggelar sejumlah pertemuan bilateral, hingga menghadiri sesi foto persahabatan di kawasan Zhongnanhai. Presiden AS itu dijadwalkan meninggalkan China pada Jumat setelah agenda makan siang kerja dan pertemuan penutup bersama Xi Jinping.
[PusakoNews.com/red]
Komentar