Strategi Video “Lego” Iran Menangi Pertarungan Narasi Global Melawan Trump

Perang Narasi Memanas: Konten Kreatif Iran Jungkirbalikkan Citra Donald Trump
Cuplikan layar dari salah satu video Lego, yang menggambarkan warga Iran mengejar seorang pilot Amerika setelah mereka menembak jatuh pesawatnya.
Cuplikan layar dari salah satu video Lego, yang menggambarkan warga Iran mengejar seorang pilot Amerika setelah mereka menembak jatuh pesawatnya.
Sesuaikan Ukuran Baca
697

PusakoNews.com, Tehran - Di tengah konflik bersenjata yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat, pertarungan tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga di ruang digital. Sejumlah video animasi bergaya “Lego” yang diproduksi kreator Iran terbukti efektif membentuk opini publik global, bahkan dinilai berhasil mengungguli narasi yang dibangun pemerintahan Presiden Donald Trump.


Konten-konten tersebut memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pendekatan kreatif berupa satire, humor, serta referensi budaya populer Barat. Video ini menampilkan tokoh-tokoh politik, termasuk Trump, dalam bentuk karikatural yang mudah dipahami dan cepat menyebar di berbagai platform media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram.


Para analis menilai keberhasilan ini bukan sekadar faktor teknis, melainkan kemampuan mengemas pesan geopolitik kompleks menjadi konten ringan yang relevan bagi generasi muda global. Narasi yang dibangun menekankan posisi Iran sebagai pihak yang diserang, sekaligus mengkritik kebijakan Barat dengan pendekatan emosional dan komunikatif.

Strategi Video “Lego” Iran Menangi Pertarungan Narasi Global Melawan Trump

Fenomena ini juga menunjukkan pergeseran strategi propaganda modern. Jika sebelumnya propaganda identik dengan pesan formal dan kaku, kini pendekatan berbasis meme, animasi, dan humor terbukti lebih efektif dalam menarik perhatian audiens internasional. Bahkan, konten sederhana berbiaya rendah mampu menghasilkan dampak besar dalam membentuk persepsi publik.


Menariknya, keberhasilan Iran dalam “perang narasi” terjadi di tengah keterbatasan akses informasi di dalam negeri, termasuk pembatasan internet dan kontrol ketat terhadap media. Namun, justru melalui jaringan kreator muda dan semi-independen, pesan-pesan tersebut mampu menembus batas dan menjangkau audiens global secara luas.


Di sisi lain, upaya komunikasi dari pihak Amerika Serikat dinilai kurang efektif dalam menghadapi gelombang konten viral tersebut. Keterbatasan adaptasi terhadap tren digital serta pendekatan komunikasi yang kurang fleksibel menjadi salah satu faktor yang memperlemah daya saing narasi mereka di ruang publik internasional.


Perkembangan ini menegaskan bahwa dalam konflik modern, dominasi tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga kemampuan mengendalikan persepsi global. Media sosial dan konten digital kini menjadi arena baru yang sama pentingnya dalam menentukan arah opini publik dunia.

[PusakoNews.com/red]

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait