PusakoNews.com, Jakarta - Negara-negara ASEAN resmi menyepakati langkah percepatan pengendalian spesies asing invasif (Invasive Alien Species/IAS) melalui pembentukan proyek regional bertajuk Accelerating IAS Management in ASEAN (AIM-ASEAN). Kesepakatan ini dihasilkan dalam lokakarya regional yang berlangsung pada 30 Maret hingga 1 April 2026 di Jakarta.
Inisiatif tersebut melibatkan Kementerian Kehutanan RI, ASEAN Centre for Biodiversity (ACB), Sekretariat ASEAN, serta perwakilan sejumlah negara anggota dan mitra kawasan. Proyek AIM-ASEAN dirancang sebagai kerangka kolaborasi strategis untuk memperkuat pengendalian spesies invasif secara lintas negara.
Melalui proyek ini, ASEAN akan memperkuat koordinasi regional, sistem biosekuriti, deteksi dini, peningkatan kapasitas teknis, serta skema pembiayaan berkelanjutan dalam menghadapi ancaman spesies invasif. Langkah ini sekaligus menjadi kontribusi konkret ASEAN dalam mendukung target global keanekaragaman hayati, khususnya pengurangan laju penyebaran spesies invasif hingga 50 persen pada 2030.
Spesies invasif diketahui menjadi salah satu penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati global. Kawasan ASEAN yang memiliki karakteristik kepulauan dinilai sangat rentan terhadap masuk dan berkembangnya spesies tersebut, terutama melalui jalur perdagangan, transportasi, dan pariwisata lintas negara.
Dalam forum tersebut, para peserta juga merumuskan enam komponen utama AIM-ASEAN, meliputi penguatan tata kelola dan koordinasi, pengembangan sistem data dan peringatan dini, peningkatan kapasitas, penguatan biosekuriti, penyelarasan kebijakan, serta dukungan pendanaan berkelanjutan.
Kesepakatan ini menandai komitmen bersama negara-negara ASEAN untuk beralih dari pendekatan nasional yang terfragmentasi menuju respons regional yang lebih terpadu dan efektif dalam menghadapi ancaman spesies invasif. Upaya kolektif ini diharapkan mampu menjaga ketahanan ekosistem serta keberlanjutan keanekaragaman hayati di kawasan Asia Tenggara.
[PusakoNews.com/red]
Komentar