Space Available Bangka Belitung R7

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

AS, Inggris, dan Australia Perkuat Aliansi Aukus lewat Pengembangan Drone Bawah Laut Canggih

Arms & Weaponry

"AS, Inggris, dan Australia Kembangkan Drone Bawah Laut Canggih untuk Hadapi Ancaman Global"

Aukus Resmi Bangun Drone Bawah Laut, Siap Lindungi Kabel dan Infrastruktur Vital Dunia
Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan Inggris akan menyumbangkan £150 juta untuk proyek baru tersebut.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan Inggris akan menyumbangkan £150 juta untuk proyek baru tersebut.

Rangkuman Berita

  • AS-Inggris-Australia Perkuat Militer dengan Drone Laut Tak Berawak, China dan Rusia Disorot
  • Teknologi Perang Masa Depan! Aukus Kembangkan Drone Bawah Laut Berteknologi AI
  • Drone Bawah Laut Aukus Siap Diluncurkan, Kabel Laut dan Pipa Energi Jadi Fokus Utama
Sesuaikan Ukuran Baca
568
Space Available Palu R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

PusakoNews.com, Orange Grove Road - Amerika Serikat, Inggris, dan Australia kembali mempertegas komitmen pertahanan trilateral mereka melalui pengembangan teknologi kendaraan bawah laut tanpa awak atau Unmanned Underwater Vehicle (UUV). Proyek strategis tersebut diumumkan dalam forum keamanan internasional Dialog Shangri-La di Singapura dan menjadi langkah baru dalam memperkuat aliansi pertahanan Aukus di tengah meningkatnya dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik.

Ketiga negara menyatakan bahwa teknologi drone bawah laut itu akan difokuskan untuk melindungi infrastruktur vital bawah laut, termasuk kabel komunikasi dan jaringan pipa energi, sekaligus meningkatkan kemampuan pertahanan maritim di berbagai kawasan strategis dunia.

Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengungkapkan bahwa teknologi tersebut ditargetkan mulai siap digunakan pada tahun depan. Pemerintah Inggris sendiri berkomitmen menggelontorkan dana sebesar 150 juta poundsterling atau sekitar 201 juta dolar AS guna mendukung pengembangan proyek tersebut.

Pengumuman ini sekaligus menjawab berbagai kritik yang sebelumnya menyebut proyek-proyek Aukus berjalan lambat sejak pertama kali diumumkan pada 2021. Healey mengakui bahwa selama ini terlalu banyak pembicaraan dibandingkan tindakan nyata dalam pelaksanaan Aukus.

“Sudah terlalu lama dalam Aukus kita terlalu banyak berbicara dan terlalu sedikit bertindak. Kini situasinya telah berubah di bawah kepemimpinan tiga pemerintahan kita,” ujar Healey di sela pertemuan para menteri pertahanan.

KZB ArmyLook R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara selama sesi pleno pertama di Dialog Shangri-La IISS pada 30 Mei 2026.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara selama sesi pleno pertama di Dialog Shangri-La IISS pada 30 Mei 2026.

Aliansi Aukus sendiri dibentuk pada 2021 sebagai pakta keamanan strategis antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Kesepakatan tersebut mencakup kerja sama pengembangan kapal selam bertenaga nuklir serta pertukaran teknologi dan kemampuan militer canggih.

Secara geopolitik, keberadaan Aukus dipandang sebagai upaya negara-negara Barat untuk merespons meningkatnya aktivitas militer dan pengaruh maritim Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik, termasuk di Laut China Selatan yang selama ini menjadi wilayah sengketa.

Pengembangan teknologi UUV menjadi proyek unggulan pertama di bawah Pilar Dua Aukus, yakni skema kerja sama yang berfokus pada pengembangan kemampuan pertahanan canggih seperti rudal hipersonik, robotika bawah laut, kecerdasan buatan, serta sistem pengawasan modern.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis ketiga negara, proyek terbaru tersebut akan menghadirkan muatan teknologi dan sistem pendukung mutakhir untuk kendaraan bawah laut tanpa awak yang memiliki kemampuan operasi multifungsi. Teknologi itu dirancang untuk melindungi infrastruktur dasar laut, mendukung operasi pengintaian dan pengawasan, menjalankan misi logistik, hingga melakukan serangan strategis apabila diperlukan.

Healey menambahkan bahwa proyek ini juga mencakup pengembangan sensor serta sistem persenjataan baru yang dapat memperkuat kemampuan tempur pasukan di masa depan.

Menurutnya, keberadaan teknologi tersebut menjadi sangat penting mengingat meningkatnya ancaman terhadap kabel dan pipa bawah laut yang selama ini menjadi tulang punggung komunikasi global dan distribusi energi internasional.

“Teknologi ini akan membantu menghadapi ancaman terhadap kabel dan jaringan bawah laut yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari masyarakat modern,” katanya.

Ia menegaskan, penguatan sistem pertahanan bawah laut tersebut akan meningkatkan daya tangkal militer di kawasan Pasifik, Atlantik, hingga wilayah Kutub Utara yang kini semakin strategis secara geopolitik.

Pengumuman proyek UUV muncul hanya sebulan setelah Inggris menuduh Rusia melakukan operasi bawah laut rahasia yang menargetkan kabel dan pipa di wilayah perairan utara Inggris. Tuduhan tersebut dibantah oleh Moskow.

Sebelumnya, pada Desember lalu, Inggris dan Norwegia juga telah menandatangani perjanjian kerja sama keamanan untuk memburu kapal selam Rusia di Atlantik Utara demi melindungi infrastruktur kabel bawah laut.

Pemerintah Inggris menyebut negara itu memiliki sekitar 60 kabel bawah laut yang menjadi jalur utama komunikasi dan pertukaran data internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas kapal Rusia di sekitar perairan Inggris disebut meningkat hingga 30 persen.

Selain Rusia, aktivitas kapal-kapal Tiongkok juga menjadi sorotan internasional setelah beberapa insiden dugaan kerusakan kabel bawah laut di sekitar Taiwan dan kawasan Swedia. Kerusakan kabel serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah Laut Baltik.

Space Available R5 Grafiti

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

AS, Inggris, dan Australia Perkuat Aliansi Aukus lewat Pengembangan Drone Bawah Laut Canggih

Meski demikian, para menteri pertahanan ketiga negara tidak secara langsung menyebut Rusia maupun Tiongkok sebagai target utama pengembangan teknologi UUV tersebut ketika ditanya awak media, termasuk BBC, di Singapura.

Mereka juga tidak memberikan jawaban rinci terkait kritik yang menyebut implementasi proyek Aukus berlangsung terlalu lambat.

Di sisi lain, Pilar Satu Aukus tetap menjadi fokus utama kerja sama pertahanan trilateral tersebut, terutama dalam pembangunan kapal selam serang bertenaga nuklir untuk angkatan laut Inggris dan Australia.

Bagi Australia, proyek Aukus dianggap sebagai lompatan besar dalam modernisasi pertahanan nasional. Negara itu akan menjadi sekutu kedua yang memperoleh teknologi propulsi nuklir dari Amerika Serikat setelah Inggris.

Namun, di dalam negeri Australia sendiri mulai muncul keraguan mengenai kemampuan pemerintah menyelesaikan proyek pertahanan terbesar dalam sejarah negara tersebut tepat waktu. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah kapal selam Aukus benar-benar dapat menggantikan armada kapal selam lama Australia yang mulai menua.

Space Available Jogja R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

AS, Inggris, dan Australia Perkuat Aliansi Aukus lewat Pengembangan Drone Bawah Laut Canggih

Berdasarkan jadwal saat ini, kapal selam baru Aukus diperkirakan baru akan siap digunakan pada dekade 2040-an. Sebagai solusi sementara, Amerika Serikat dan Inggris akan secara bergantian menempatkan kapal selam bertenaga nuklir mereka di Australia.

Selain itu, Australia juga dijadwalkan membeli kapal selam nuklir bekas milik Amerika Serikat pada dekade 2030-an guna memperkuat kemampuan armada lautnya.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki alternatif lain selain melanjutkan proyek Aukus.

“Tidak ada rencana B,” ujar Marles menjelang keberangkatannya ke Singapura menghadiri Dialog Shangri-La.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memastikan bahwa rencana rotasi kapal selam nuklir AS dan Inggris di Australia masih berjalan sesuai jadwal. Personel Angkatan Laut AS pertama diperkirakan mulai ditempatkan di Australia pada akhir tahun ini.

Marles juga memastikan bahwa pangkalan angkatan laut HMAS Stirling di Australia Barat akan siap menerima armada kapal selam rotasi pada akhir 2027. Pemerintah Australia saat ini juga terus melanjutkan pembangunan fasilitas galangan kapal di Australia Selatan yang nantinya akan digunakan untuk membangun kapal selam Aukus.

Pengembangan teknologi drone bawah laut ini menjadi penanda bahwa Aukus tidak hanya berfokus pada pengadaan kapal selam nuklir, tetapi juga memperluas kerja sama menuju penguasaan teknologi pertahanan masa depan yang dinilai semakin menentukan arah keamanan global di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan besar dunia.
[PusakoNews.com/red]

Space Available Lampung R9

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait

Space Available Palembang R6

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews