PusakoNews.com, Jakarta Selatan - Nasib ratusan pedagang Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kembali menjadi sorotan publik setelah kawasan bekas pasar legendaris tersebut diratakan menggunakan alat berat. Proses pembongkaran dan pembersihan area eks pasar yang berlangsung pada Jumat, 22 Mei 2026, memicu gelombang protes dari para pedagang yang hingga kini masih berharap adanya realisasi janji Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun kembali pasar tersebut.

Pasar Taman Puring sebelumnya mengalami kebakaran hebat pada Juli 2025 yang menghanguskan ratusan kios dan lapak pedagang. Sejak insiden tersebut, para pedagang bertahan dengan membuka lapak-lapak darurat di area bekas kebakaran demi mempertahankan mata pencaharian mereka. Namun, setelah sembilan bulan berlalu, harapan untuk mendapatkan kepastian pembangunan kembali pasar belum juga terwujud.
Pembongkaran total kawasan eks Pasar Taman Puring dilakukan sebagai bagian dari penataan wilayah. Pemerintah Kota Jakarta Selatan sebelumnya mengusulkan agar lokasi tersebut dialihfungsikan menjadi taman ramah difabel atau taman inklusif. Usulan itu bahkan telah mendapat persetujuan dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam agenda penataan ruang terbuka hijau di wilayah Jakarta Selatan.
Rencana tersebut justru menimbulkan keresahan di kalangan pedagang. Mereka menilai pembangunan taman di atas lokasi Pasar Taman Puring bertentangan dengan komitmen awal pemerintah yang pernah menjanjikan revitalisasi pasar pascakebakaran. Para pedagang mengaku kecewa karena merasa tidak dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan terkait masa depan kawasan tersebut.
Perwakilan pedagang Pasar Taman Puring menyampaikan bahwa hingga kini mereka masih memegang janji Gubernur DKI Jakarta yang sebelumnya menyatakan akan membangun kembali pasar agar para pedagang dapat kembali beraktivitas seperti sediakala. Mereka menegaskan bahwa pasar tersebut bukan sekadar tempat usaha, melainkan sumber penghidupan bagi ratusan keluarga yang terdampak kebakaran.
Menurut data pedagang, lebih dari 500 pedagang kehilangan sumber pendapatan utama akibat kebakaran dan proses penataan kawasan. Kondisi tersebut memperburuk tekanan ekonomi yang selama ini mereka hadapi. Banyak pedagang yang kini terpaksa berpindah-pindah lokasi untuk berjualan dengan kondisi yang jauh dari layak.
Kekecewaan para pedagang juga muncul karena sebelumnya mereka telah memenuhi permintaan pemerintah untuk membongkar lapak dan tenda darurat secara mandiri. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya komunikasi dengan aparat pemerintah daerah yang menyebut penataan kawasan dilakukan demi mempercepat proses pembangunan kembali lokasi eks Pasar Taman Puring. Namun, setelah area tersebut diratakan, muncul informasi mengenai pembangunan taman difabel yang dinilai tidak sejalan dengan harapan pedagang.
Dalam aksi penyampaian aspirasi di kawasan Kebayoran Baru, para pedagang meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan kepastian terkait nasib mereka. Mereka berharap revitalisasi Pasar Taman Puring tetap menjadi prioritas sehingga roda ekonomi masyarakat kecil dapat kembali berjalan.
Para pedagang juga menolak anggapan bahwa seluruh pelaku usaha di kawasan tersebut telah menerima relokasi ke sejumlah titik lain seperti Cidodol, Kebayoran Lama, maupun Mampang. Sebagian besar pedagang mengaku memilih bertahan karena masih berharap Pasar Taman Puring dibangun kembali sesuai komitmen awal pemerintah daerah.
Pasar Taman Puring sendiri dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan legendaris di Jakarta Selatan yang telah puluhan tahun menjadi destinasi masyarakat untuk mencari berbagai kebutuhan, mulai dari sepatu, barang elektronik, hingga aksesori otomotif. Hilangnya aktivitas perdagangan di kawasan tersebut dinilai tidak hanya berdampak terhadap pedagang, tetapi juga mempengaruhi denyut ekonomi lokal di kawasan Kebayoran Baru.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai pembangunan ruang terbuka hijau dan taman inklusif merupakan bagian dari upaya menghadirkan fasilitas publik yang lebih ramah bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Pemerintah juga menyebut penataan kawasan dilakukan untuk memperbaiki fungsi ruang kota dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.

Meski demikian, para pedagang berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang tidak mengorbankan keberlangsungan usaha masyarakat kecil. Mereka meminta adanya dialog terbuka antara pemerintah daerah dan pedagang guna mencari jalan tengah yang berpihak kepada kepentingan rakyat sekaligus tetap mendukung penataan kota yang berkelanjutan.
Hingga saat ini, para pedagang Pasar Taman Puring masih menunggu kepastian resmi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait realisasi pembangunan kembali pasar maupun arah penataan kawasan eks kebakaran tersebut.
[PusakoNews.com/red]








Komentar