Koordinator keamanan penanganan Ebola di Ituri, Jean Claude Mukendi, menyebut sebagian masyarakat masih belum memahami bahaya virus Ebola dan pentingnya penanganan jenazah secara ketat. Rendahnya edukasi dan minimnya kepercayaan terhadap pemerintah maupun lembaga kesehatan internasional dinilai menjadi pemicu utama penolakan masyarakat.
Banyak warga di daerah terpencil masih menganggap Ebola sebagai rekayasa pihak luar atau penyakit buatan yang dimanfaatkan organisasi non-pemerintah dan rumah sakit untuk mendapatkan keuntungan finansial. Persepsi tersebut memperumit upaya pengendalian wabah yang terus meluas di kawasan timur DR Kongo.
Dalam kerusuhan itu, sedikitnya dua tenda isolasi dilaporkan hangus terbakar. Bahkan, sebuah jenazah yang seharusnya menjalani proses pemakaman aman ikut terbakar di lokasi kejadian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah merekomendasikan prosedur “pemakaman yang aman dan bermartabat” bagi korban Ebola dengan melibatkan tim khusus yang menggunakan perlengkapan pelindung lengkap untuk mencegah penularan.
Saat kerusuhan berlangsung, enam pasien Ebola diketahui tengah menjalani perawatan di area tenda rumah sakit. Sempat muncul kekhawatiran para pasien melarikan diri di tengah kekacauan. Namun organisasi medis Alima, yang mengelola fasilitas tersebut, memastikan seluruh pasien telah ditemukan dan kembali menjalani perawatan medis.
Ketegangan sosial ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ancaman wabah Ebola di DR Kongo. Tim nasional sepak bola DR Kongo bahkan membatalkan agenda pemusatan latihan pra-Piala Dunia di Kinshasa akibat kekhawatiran terhadap penyebaran virus tersebut.
WHO telah menetapkan wabah Ebola di DR Kongo sebagai “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”, meskipun belum dikategorikan sebagai pandemi global. Data WHO terbaru menyebut sedikitnya 139 orang diperkirakan meninggal akibat Ebola dari sekitar 600 kasus yang dicurigai. Namun Menteri Kesehatan DR Kongo, Samuel Roger Kamba, menyampaikan angka korban meninggal telah mencapai 159 orang.
Penyebaran virus juga mulai mengkhawatirkan negara tetangga. Uganda telah mendeteksi dua kasus Ebola dan segera memberlakukan pembatasan lintas perbatasan, termasuk penghentian sementara penerbangan, layanan bus, serta transportasi umum menuju wilayah terdampak. Operasional kapal feri penumpang di Sungai Semliki yang menjadi bagian perbatasan DR Kongo dan Uganda juga dihentikan sementara.
Wabah kali ini dipicu oleh spesies Ebola langka jenis Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin siap pakai. WHO memperkirakan pengembangan vaksin untuk jenis tersebut masih membutuhkan waktu hingga sembilan bulan.
Komentar