KZB ArmyLook R7

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Kerusuhan Warnai Penanganan Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, Massa Bakar Tenda Isolasi Rumah Sakit

Africa

"Massa Ngamuk dan Bakar Tenda Rumah Sakit Ebola di Kongo, Situasi Mencekam!"

Kerusuhan Ebola di DR Kongo Pecah, Rumah Sakit Diserang Massa Marah
Kerusuhan tersebut menyoroti kesulitan yang dihadapi pihak berwenang seiring meningkatnya kasus virus.
Kerusuhan tersebut menyoroti kesulitan yang dihadapi pihak berwenang seiring meningkatnya kasus virus.

Rangkuman Berita

Kerusuhan pecah di Rumah Sakit Umum Rwampara, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, setelah massa yang marah membakar tenda isolasi Ebola akibat penolakan terhadap prosedur pemakaman seorang pemuda yang diduga meninggal karena virus tersebut. Aksi tersebut dipicu rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan Ebola dan anggapan bahwa wabah itu merupakan rekayasa pihak luar. Polisi terpaksa melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa, sementara tenaga medis mendapat perlindungan militer. Di tengah situasi itu, wabah Ebola terus meluas dengan ratusan kasus dan lebih dari 130 korban jiwa, bahkan telah menyebar hingga Uganda dan wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak M23. WHO menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan internasional, terutama karena virus yang menyebar merupakan jenis Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin siap pakai.

Sesuaikan Ukuran Baca
655
HASKARA TRANS R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

PusakoNews.com, Bukavu - Situasi penanganan wabah Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) memanas setelah sekelompok massa melakukan aksi penyerangan dan pembakaran terhadap fasilitas kesehatan di Rumah Sakit Umum Rwampara, Provinsi Ituri. Kerusuhan dipicu kemarahan keluarga dan kerabat seorang pemuda yang diduga meninggal akibat Ebola setelah pihak rumah sakit melarang jenazah dibawa pulang untuk dimakamkan secara tradisional.


Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan masyarakat terhadap prosedur penanganan korban Ebola yang mewajibkan penguburan dilakukan secara aman dan diawasi ketat demi mencegah penularan virus yang sangat mematikan. Massa yang marah melempari bangunan rumah sakit dengan batu dan benda keras sebelum akhirnya membakar sejumlah tenda yang digunakan sebagai ruang isolasi pasien Ebola.


Politisi setempat, Luc Malembe Malembe, yang berada di lokasi saat kejadian, mengatakan situasi berubah kacau dalam waktu singkat. Aparat kepolisian terpaksa melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan kerumunan dan mengendalikan keadaan. Fasilitas medis di rumah sakit tersebut kemudian ditempatkan di bawah pengamanan militer guna menghindari serangan lanjutan.

ExcellentAromatica R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Geger Wabah Ebola, Massa Serbu Rumah Sakit dan Bakar Ruang Isolasi

Staf medis ditempatkan di bawah perlindungan militer.
Staf medis ditempatkan di bawah perlindungan militer.
Seorang tenaga kesehatan dilaporkan mengalami luka akibat lemparan batu sebelum aparat keamanan turun tangan. Menurut otoritas setempat, pria yang meninggal tersebut merupakan sosok populer di komunitasnya, bahkan dikenal sebagai pemain sepak bola lokal yang pernah membela beberapa klub di daerah itu. Keluarganya meyakini korban meninggal akibat demam tifoid, bukan Ebola, sehingga menolak prosedur pemakaman khusus yang ditetapkan pemerintah dan organisasi kesehatan internasional.


Koordinator keamanan penanganan Ebola di Ituri, Jean Claude Mukendi, menyebut sebagian masyarakat masih belum memahami bahaya virus Ebola dan pentingnya penanganan jenazah secara ketat. Rendahnya edukasi dan minimnya kepercayaan terhadap pemerintah maupun lembaga kesehatan internasional dinilai menjadi pemicu utama penolakan masyarakat.


Banyak warga di daerah terpencil masih menganggap Ebola sebagai rekayasa pihak luar atau penyakit buatan yang dimanfaatkan organisasi non-pemerintah dan rumah sakit untuk mendapatkan keuntungan finansial. Persepsi tersebut memperumit upaya pengendalian wabah yang terus meluas di kawasan timur DR Kongo.


Dalam kerusuhan itu, sedikitnya dua tenda isolasi dilaporkan hangus terbakar. Bahkan, sebuah jenazah yang seharusnya menjalani proses pemakaman aman ikut terbakar di lokasi kejadian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah merekomendasikan prosedur “pemakaman yang aman dan bermartabat” bagi korban Ebola dengan melibatkan tim khusus yang menggunakan perlengkapan pelindung lengkap untuk mencegah penularan.


Saat kerusuhan berlangsung, enam pasien Ebola diketahui tengah menjalani perawatan di area tenda rumah sakit. Sempat muncul kekhawatiran para pasien melarikan diri di tengah kekacauan. Namun organisasi medis Alima, yang mengelola fasilitas tersebut, memastikan seluruh pasien telah ditemukan dan kembali menjalani perawatan medis.


Ketegangan sosial ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ancaman wabah Ebola di DR Kongo. Tim nasional sepak bola DR Kongo bahkan membatalkan agenda pemusatan latihan pra-Piala Dunia di Kinshasa akibat kekhawatiran terhadap penyebaran virus tersebut.


WHO telah menetapkan wabah Ebola di DR Kongo sebagai “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”, meskipun belum dikategorikan sebagai pandemi global. Data WHO terbaru menyebut sedikitnya 139 orang diperkirakan meninggal akibat Ebola dari sekitar 600 kasus yang dicurigai. Namun Menteri Kesehatan DR Kongo, Samuel Roger Kamba, menyampaikan angka korban meninggal telah mencapai 159 orang.


Penyebaran virus juga mulai mengkhawatirkan negara tetangga. Uganda telah mendeteksi dua kasus Ebola dan segera memberlakukan pembatasan lintas perbatasan, termasuk penghentian sementara penerbangan, layanan bus, serta transportasi umum menuju wilayah terdampak. Operasional kapal feri penumpang di Sungai Semliki yang menjadi bagian perbatasan DR Kongo dan Uganda juga dihentikan sementara.


Wabah kali ini dipicu oleh spesies Ebola langka jenis Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin siap pakai. WHO memperkirakan pengembangan vaksin untuk jenis tersebut masih membutuhkan waktu hingga sembilan bulan.

KZB ArmyLook R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Ebola di Kongo Makin Gawat, Massa Marah Bakar Rumah Sakit dan Lempari Petugas

Wabah Ebola Memanas, Warga Kongo Tak Percaya Virus dan Serang Rumah Sakit
Wabah Ebola Memanas, Warga Kongo Tak Percaya Virus dan Serang Rumah Sakit

Di tengah kondisi tersebut, kelompok pemberontak M23 yang menguasai sebagian wilayah timur DR Kongo turut mengonfirmasi kasus Ebola pertama di Provinsi Kivu Selatan, ratusan kilometer dari pusat wabah di Ituri. Seorang pria berusia 28 tahun asal Kisangani dilaporkan meninggal dunia sebelum diagnosis Ebola terhadap dirinya dipastikan.


Munculnya kasus di wilayah yang berada di bawah kendali kelompok bersenjata meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap akses layanan kesehatan dan efektivitas penanganan wabah. Meski belum pernah menghadapi krisis kesehatan sebesar Ebola, pihak M23 menyatakan siap bekerja sama dengan mitra internasional untuk membantu pengendalian penyebaran virus.


Pemerintah DR Kongo bersama WHO dan berbagai organisasi kemanusiaan kini terus memperkuat langkah penanganan darurat, termasuk edukasi masyarakat, pengamanan fasilitas kesehatan, pelacakan kontak pasien, serta pembatasan mobilitas di wilayah terdampak guna mencegah wabah berkembang lebih luas di kawasan Afrika Tengah.

[PusakoNews.com/red]

Excellent Aromatica R9

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait

Space Available Wonderful Indonesia R6

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews