Ia Tak Gugur di Medan Perang, Tapi Menjaga Negeri Sepanjang Hidupnya

Namanya Tak Tercatat di Buku Sejarah, Tapi Jasanya Hidup di Ribuan Anak Bangsa
Tanpa Panggung dan Penghargaan, Ia Mengabdi Demi Indonesia Sepanjang Hidup ©PusakoNews.com/kreatif
Sesuaikan Ukuran Baca
37
572
PusakoNews.com, Jakarta - Di sebuah desa kecil di pinggiran Bukittinggi, Sumatera Barat, hidup seorang guru bernama Sutan Marajo. Ia bukan jenderal, bukan tokoh politik, dan namanya nyaris tak pernah muncul di buku sejarah. Namun bagi ratusan anak yang pernah duduk di bangku kayu sekolahnya, Sutan adalah wajah nyata dari patriotisme yang sunyi. Sejak tahun 1950-an, ia mengajar tanpa lelah di sekolah dasar yang atapnya bocor dan dindingnya rapuh, di masa ketika negara baru saja berdiri dan segalanya masih serba kekurangan.

Pada masa pergolakan pascakemerdekaan, banyak orang memilih mengungsi ke kota demi hidup yang lebih aman. Sutan justru bertahan di desa. Ketika konflik bersenjata sesekali terdengar dari kejauhan, ia tetap membuka sekolah. “Kalau anak-anak berhenti belajar, republik ini bisa kalah tanpa perang,” begitu katanya kepada murid-muridnya. Ia mengajar membaca, berhitung, dan—yang paling penting—mengajarkan arti mencintai tanah air tanpa kebencian.

Gajinya sering terlambat, bahkan kadang tak dibayar. Namun Sutan tak pernah meninggalkan kelas. Ia menulis di papan tulis dengan kapur yang dibelinya sendiri, membawa buku bekas dari kota, dan berkeliling rumah murid yang putus sekolah untuk membujuk mereka kembali belajar. Baginya, kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah, tetapi memastikan generasi berikutnya mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain.

Puluhan tahun berlalu. Murid-murid Sutan tumbuh menjadi dokter, petani, tentara, jurnalis, dan pemimpin nagari. Banyak di antara mereka baru menyadari, setelah dewasa, bahwa dedikasi sang guru adalah bentuk pengabdian tertinggi pada bangsa. Ia tak pernah meminta penghargaan. Bahkan ketika usia renta membuat langkahnya tertatih, Sutan masih datang ke sekolah hanya untuk duduk di pojok kelas, mendengarkan anak-anak membaca dengan suara lantang.

Sutan Marajo wafat dalam kesederhanaan. Tak ada upacara kenegaraan, tak ada sorotan kamera. Namun jejaknya hidup dalam pikiran dan hati generasi yang ia didik. Kisahnya mengajarkan bahwa patriotisme tak selalu lahir dari medan perang. Ia juga tumbuh dari ruang kelas kecil, dari kesabaran, dan dari keyakinan bahwa mencerdaskan anak bangsa adalah cara paling sunyi—namun paling abadi—untuk menjaga Indonesia.
[PusakoNews.com/kreatif]

Berita Terkait