Tan Malaka: Bapak Republik yang Diburu 11 Negara dan Tewas oleh Bangsanya Sendiri

Ia dijuluki “Bapak Republik Indonesia” karena gagasannya tentang negara republik telah ia suarakan jauh sebelum Proklamasi 1945
Tan Malaka (1897-1949)
Sesuaikan Ukuran Baca
65
577
PusakoNews.com, Jakarta - Tan Malaka (1897–1949), bernama asli Ibrahim, adalah salah satu tokoh paling radikal dan visioner dalam sejarah perjuangan Indonesia. Ia dijuluki “Bapak Republik Indonesia” karena gagasannya tentang negara republik telah ia suarakan jauh sebelum Proklamasi 1945. Lahir di Pandam Gadang, Sumatera Barat, Tan Malaka dikenal sebagai sosok cerdas dengan keberanian intelektual yang melampaui zamannya. Perjuangannya tidak hanya ditempuh di medan fisik, tetapi juga melalui pemikiran revolusioner yang menuntut kemerdekaan penuh, tanpa kompromi.

Sejak kecil, Tan Malaka menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia mengenyam pendidikan di Kweekschool Bukittinggi sebelum melanjutkan studi ke Rijkskweekschool di Haarlem, Belanda, berkat dukungan gurunya, G.H. Horensma. Di Eropa, wawasannya semakin terbuka terhadap ketidakadilan kolonialisme. Ia mempelajari berbagai aliran pemikiran kiri, terutama sosialisme dan komunisme, yang kemudian membentuk sikap politiknya yang tegas dan anti-penindasan.

Sekembalinya ke tanah air, Tan Malaka memilih jalur pendidikan dan pergerakan politik sebagai sarana perjuangan. Ia aktif mengajar dan mengorganisasi rakyat, sambil menyuarakan konsep “Merdeka 100%”, sebuah gagasan yang menolak segala bentuk kemerdekaan setengah-setengah. Baginya, kemerdekaan harus dicapai secara utuh, baik secara politik, ekonomi, maupun mental bangsa.

Aktivitas revolusionernya membuat Tan Malaka menjadi buronan internasional. Ia hidup berpindah-pindah di lebih dari sebelas negara dan menghabiskan hampir dua dekade dalam pelarian. Dalam kondisi penuh keterbatasan, ia justru melahirkan karya-karya penting, salah satunya “Naar de Republiek Indonesia” (1925), buku yang secara sistematis merumuskan cita-cita republik Indonesia jauh sebelum negara ini berdiri secara resmi.

Di masa revolusi fisik, Tan Malaka tetap konsisten dengan prinsipnya. Ia bersikap kritis terhadap jalur diplomasi yang ditempuh pemerintah Indonesia dalam menghadapi Belanda, karena dianggap berpotensi menggerus kedaulatan bangsa. Pandangannya yang keras sering kali menempatkannya berseberangan dengan elit politik dan militer pada masa itu.

Akhir hidup Tan Malaka berlangsung tragis. Pada 21 Februari 1949, ia dieksekusi di Selopanggung, Kediri, dalam situasi konflik internal yang kompleks. Meski wafat secara mengenaskan dan lama diselimuti kontroversi, pemikiran dan keteguhannya tetap hidup dalam sejarah perjuangan Indonesia. Pada tahun 1963, negara akhirnya mengakui jasanya dengan menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.

Tan Malaka dikenang sebagai figur revolusioner sejati: seorang intelektual pengembara, penguasa banyak bahasa, dan pejuang yang setia pada gagasannya hingga akhir hayat. Warisannya bukan hanya catatan sejarah, melainkan juga tantangan moral bagi generasi penerus untuk memahami arti kemerdekaan yang sesungguhnya.
[PusakoNews.com/red]

Berita Terkait