PusakoNews.com, Kabupaten Pidie - Pengembangan penyelidikan atas penyelundupan 2,6 ton sabu cair menjadi titik awal pengungkapan laboratorium narkotika yang diduga terhubung dengan jaringan internasional di Kabupaten Pidie, Aceh. Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan memaparkan rangkaian pergerakan jaringan tersebut hingga laboratorium ditemukan dan 11 orang diamankan.
Dalam keterangannya di lokasi pengungkapan, Desa Beureueh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Jumat (23/10/2026), Ruddi menegaskan bahwa pemberantasan narkotika dilakukan tanpa kompromi. Penindakan, menurut dia, berlaku bagi siapa pun yang terlibat dalam penyalahgunaan maupun peredaran narkoba.

Ia menjelaskan, penyelidikan berkembang setelah pengungkapan kapal Ocean Porter yang membawa 2,6 ton sabu cair. Pemeriksaan terhadap anak buah kapal yang diamankan menghasilkan informasi mengenai jaringan lain yang diduga beroperasi di Indonesia. Operasi tersebut disebut melibatkan BNN, Polri, Bea Cukai, dan NNCC Tiongkok.
Penyelidikan Menelusuri Rencana Pengiriman ke Aceh
Berdasarkan keterangan Ruddi, tim gabungan kemudian menelusuri informasi tentang sabu cair berwarna kuning yang disebut berasal dari Thailand. Barang tersebut direncanakan dibawa ke Aceh menggunakan kapal Ocean Kardon.

Pada Mei 2026, tim memperoleh informasi mengenai kedatangan dua warga negara Tiongkok di Banda Aceh. Keduanya disebut dijemput jaringan setempat dan melakukan survei selama sekitar 10 hari untuk mencari lokasi yang akan digunakan sebagai laboratorium narkotika rahasia atau clandestine laboratory.
Informasi berikutnya diterima pada Juli 2026, terkait rencana pengiriman sabu cair melalui skema ship-to-ship, yakni pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lain di laut. Proses pengiriman itu, menurut bahan keterangan Kapolda Aceh, berlangsung sekitar 10 minggu.

Rangkaian pergerakan kembali terpantau pada Oktober. Pada 15 Oktober 2026, dua warga negara Indonesia berangkat ke Malaysia untuk menjemput kedua warga negara Tiongkok tersebut. Keduanya kemudian tiba di Aceh pada 17 Oktober dan dijemput oleh jaringan setempat.
Setelah tiba di Banda Aceh, mereka mencari ruko yang akan dijadikan lokasi laboratorium narkotika, termasuk sebuah ruko di wilayah Jeunieb, Kabupaten Bireuen.











Komentar