PusakoNews.com, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah memperkuat perlindungan kesehatan, keselamatan, dan penghidupan masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berkepanjangan. Ia menilai penanganan bencana tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga harus menjawab kebutuhan warga selama masa darurat hingga pemulihan.
Dalam dua keterangan resmi yang disampaikan pada Selasa (13/10/2026), Puan menyoroti dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat sekaligus tekanan ekonomi yang dihadapi keluarga di wilayah terdampak.
Menurutnya, kabut asap tidak hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketika masyarakat harus membatasi kegiatan demi keselamatan, sebagian keluarga berisiko kehilangan penghasilan sementara kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi.
Puan meminta pemerintah pusat dan daerah memastikan kebijakan pengendalian karhutla berjalan seiring dengan perlindungan masyarakat, termasuk kelompok rentan, pekerja harian, serta pelaku usaha kecil.
Ribuan Balita Terdampak ISPA, Empat Kematian Dilaporkan
Besarnya dampak kesehatan menjadi salah satu perhatian utama DPR. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dikutip dalam rilis resmi DPR RI, sebanyak 174.694 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla selama periode Agustus hingga 21 September 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 40.363 balita tercatat mengalami ISPA di tujuh provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla.
Data Kemenkes yang dirujuk DPR juga mencatat empat orang meninggal dunia akibat dampak karhutla hingga 9 September 2026. Tiga korban dilaporkan berada di Kalimantan Tengah dan satu lainnya di Kalimantan Barat. Penyebab kematian dalam laporan tersebut umumnya berkaitan dengan gangguan pernapasan akut.
Kondisi ini memperkuat perhatian Puan terhadap perlunya perlindungan bagi masyarakat yang terus terpapar kabut asap, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Ia menekankan pentingnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah agar tanggung jawab antarlembaga jelas serta dukungan kepada warga tidak terputus selama kondisi darurat berlangsung.
Pekerja Harian dan Usaha Kecil Hadapi Tekanan Ekonomi
Selain persoalan kesehatan, Puan mengingatkan bahwa dampak karhutla juga menjangkau kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pembatasan kegiatan demi menghindari paparan asap dapat mengurangi kesempatan bekerja bagi pekerja harian. Pelaku usaha kecil juga berpotensi menghadapi penurunan aktivitas ekonomi, sementara orang tua harus menyesuaikan pengasuhan anak dalam situasi yang tidak menentu.
Menurut Puan, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam merancang dukungan sosial bagi masyarakat terdampak.
Ia meminta pemerintah memperhatikan keluarga yang mengalami penurunan pendapatan maupun peningkatan pengeluaran, termasuk rumah tangga yang sebelumnya mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri tetapi kemudian menghadapi kesulitan akibat bencana.
Dengan demikian, penentuan penerima bantuan tidak hanya mempertimbangkan kondisi ekonomi sebelum bencana, melainkan juga perubahan keadaan keluarga selama karhutla berlangsung.









Komentar