PusakoNews.com, Serang - Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan Peringatan 400 Tahun Kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari di halaman Masjid Agung Banten Lama, Banten. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas warisan intelektual, perjuangan, serta pengaruh besar Syekh Yusuf sebagai tokoh lintas benua yang diakui dunia.
Acara dibuka meriah melalui penampilan Tari Rampak Bedug dan Tari Ratoh Jaroe yang merepresentasikan kekuatan budaya Islam Nusantara. Peringatan empat abad kelahiran Syekh Yusuf juga tercatat sebagai bagian dari agenda UNESCO, menegaskan pengaruh global tokoh nasional tersebut.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa Syekh Yusuf merupakan sosok pejuang yang memadukan kekuatan pemikiran dan perlawanan nyata terhadap penjajahan. Selain dikenal melalui puluhan karya tasawuf, Syekh Yusuf juga menjadi satu-satunya tokoh yang memperoleh gelar Pahlawan Nasional di dua negara, yakni Indonesia dan Afrika Selatan.
Menurut Menteri Kebudayaan, Banten memiliki posisi penting dalam perjalanan hidup Syekh Yusuf karena di wilayah ini beliau mengabdi sebagai mufti sekaligus menjadi menantu Sultan Ageng Tirtayasa.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga mengumumkan rencana strategis pembangunan Museum Syekh Yusuf yang akan difungsikan sebagai Rumah Budaya Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan. Rencana tersebut telah dikoordinasikan bersama otoritas setempat, Kementerian Luar Negeri, serta mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto.
Selain itu, Kementerian Kebudayaan berkomitmen mempercepat penetapan kawasan Banten Lama sebagai Cagar Budaya Nasional guna menjaga kelestarian warisan hidup, termasuk Masjid Agung Banten Lama.
Rangkaian kegiatan diisi dengan diskusi intelektual bertajuk Syekh Yusuf: Dulu, Kini, dan Nanti yang menghadirkan para pakar, di antaranya Prof. Oman Fathurahman dan Mukhlis PaEni. Kegiatan lain yang menarik perhatian adalah aksi Khatmil Quran bil Kitabah berupa penulisan mushaf Al-Qur’an oleh 500 santri.
Pengunjung juga disuguhkan pameran manuskrip asli yang telah masuk daftar UNESCO Memory of the World, serta ruang interaktif berbasis budaya. Acara ditutup dengan pertunjukan musik religi dari grup Debu dan pembacaan puisi kebangsaan oleh Ferry Sandi.



Komentar